Ini Dia Penyebab Belajar Bahasa Arab dan Bahasa Asing Lainnya jadi Sulit (Hari Ke-2)

Ini Dia Penyebab Belajar Bahasa Arab dan Bahasa Asing Lainnya jadi Sulit (Hari Ke-2)

Kalau boleh tahu, seumur hidup Anda, sejak kapan dan sampai kapan Anda belajar bahasa Asing? Bahasa Inggris mungkin? Atau bahasa lainnya?

Coba kita ingat-ingat lagi. Belajar bahasa Inggris, misalnya. Saya ingat, sebagai anak generasi kelahiran 92 saya mengenyam pelajaran bahasa Inggris mulai kelas 4 SD. Tahukah, Anda? Sejak kelas 4 SD itu sampai hampir lulus kuliah 2015 saya tidak bisa-bisa bahasa Inggris juga. Bebal banget kah? Padahal, saya termasuk penggila pelajaran bahasa Asing. hehe.

Hal ini yang selalu terngiang-ngiang dalam benak saya. Kenapa hal seperti itu bisa terjadi? Kebayang ya, dari SD sampai Kuliah ada pelajaran bahasa Inggris lho, tapi sampai sarjana dan diwisuda pun, kita nggak bisa juga bahasa Inggris. Jujur aja deh, bahkan tidak sedikit kan yang menggunkana  jasa penerjemah ke bahasa Inggris untuk abstrak skripsinya. Untuk yang terakhir (baca: pakai jasa penerjemah) ini saya tidak pakai ya. hehe. Saya sudah mulai sadar bahwa saya harus bisa buat sendiri.

Tapi memang belajar bahasa asing di Indonesia itu sepertinya sulit sekali. Bahkan kalau guru bahasa asing masuk ruangan kelas tak sedikit siswa mengeluh, malas-malasan. Paling-paling siswa lima besar di kelas saja yang bisa dan tampil dengan performa terbaik dan tentunya jadi anak emas guru. Akhirnya siswa yang anak emas guru ini jadi sumber contekan kawan-kawan sekelasnya.

Coba renungkan! Sebegitu sulitkah bahasa Inggris? Bahasa Asing? Saya tidak ingin membahas bahasa Arab dulu ya. Sebab bahasa Inggris yang dari SD sampai kuliah saja sesulit itu, bagaimana dengan bahasa Arab yang baru dipelajari mungkin pas masuk madrasah tsanawiyah karena sebelumya belajar SD umum atau lebih jauh misalnya dari SMP umum masuk madrasah aliyah, atau yang dari SMA umum masuk kuliah nyasar di jurusan Bahasa dan Sastra Arab? Hayo hayo hayo!

Sebenarnya diperlukan berapa banyak guru bahasa asing supaya bisa berbahasa asing sih?

Ups! Tenang-tenang. hehe. Tidak sampai segitunya juga keles.
Sebenarnya masalahnya bukan di situ sih. Jumlah guru memang berpengaruh ketika tidak memadai, tapi sebanyak apapun gurunya kalau tidak membangun mindset belajar bahasa asing yang lebih fresh, hasilnya akan begitu-begitu saja lah. Berdasarkan apa yang saya alami, berikut ini masalah yang menyebabkan belajar bahasa asing itu sulit:

Belajar Bahasa Arab


Ini Dia Penyebab Belajar Bahasa Arab dan Bahasa Asing Lainnya jadi Sulit


Motivasi yang lemah dan Mindset yang Salah.

Kalau sudah bahas motivasi, tentunya ada faktor internal dan eksternalnya nih. Yuk kita bahas satu-satu!

Motoivasi internal


Motivasi ini muncul dalam diri. Misalnya rasa suka terhadap bahasa asing. Siswa yang seperti ini biasanya memang punya kecenderungan minat di bidang bahasa. Jadi belajar bahasa apa saja baginya menyenangkan. Ada kan, anak seperti ini? Kalau sudah belajar bahasa paling antusias dan paling menonjol.

Ada juga siswa yang secara internal dirinya tidak tertarik sama sekali dengan bahasa asing. Biasanya karena merasa tidak ada gunanya juga bahasa asing dipakai di Indonesia. Buktinya percakapan sehari-harinya saja tetap pakai bahasa Indonesia. Bahkan guru bahasa asingnya saja tidak pernah tuh ngobrol dengan siswa pakai bahasa asing. Guru matematikanya tidak menyampaikan materi dengan bahasa Inggris, tidak juga Arab atau Prancis. Semuanya baik-baik saja kalau tidak bisa berbahasa asing.

Motivasi Eksternal

Sedangkan motivasi eksternal bisa meliputi faktor guru dan lingkungannya.

1) Faktor Guru

Guru bisa menjadi penyebab siswa yang asalnya tidak suka bahasa asing jadi suka bahasa asing. Karena dorongan dan dukungan yang tepat itu bisa saja terjadi. Tentunya juga berlaku sebaliknya. Kebayang ketika belajar bahasa asing rumit seperti belajar matematika, mislanya. Apakah tidak membuat siswa yang sebelumnya memiliki motivasi yang kuat untuk belajar bahasa asing jadi melemah?

2) Faktor Lingkungan

Coba kita lihat sekolah yang menegaskan kebijakan berbahasa asing, seperti pondok pesantren Gontor misalnya. Setiap warga pondok pesantren diwajibkan berbahasa asing Arab dan Inggris dalam aktivitas kesahariannya. Kira-kira selemah-lemahnya daya ingat dan kecerdasan siswa, dia pasti tetap mampu saja berbicara bahasa asing, kan? Itu dia pentingnya faktor lingkungan.

Contoh lainnya bisa kita lihat juga Kampung Inggris Pare. Karena lingkungannya di sana adalah belajar berbahasa dan berkomunikasi, maka banyak pembelajaran  bahasa asing di sana berhasil. Salah satu alumninya saya. hehe. Meskipun saya tidak hafal grammar, alhamdulillah kalau diajak ngobrol dengan bahasa Inggris saya bisa. Kerennya lagi, sebab lingkungan bahasa yang baik di sana,  saya dapat berakselerasi dan bisa berbicara dengan bahasa Inggris hanya dalam kurun waktu 2 bulan.

Nah, coba kita lihat lagi di sekolah tempat kita mengajar bahasa asing, baik bahasa Arab atau bahasa asing lainnya. Benar gak alasan lingkungan menjadi faktor berhasil atau tidaknya penguasaan bahasa asing siswa?

Lalu bagaiman mengatasi masalah ini?


Bangun Mindset Baru yang Lebih Fresh!

Apa mindsetnya?

Belajar bahasa untuk bisa, bukan dapat predikat angka!
Belajar bahasa untuk kita berkomunikasi dengan masyarakat dunia!
Belajar bahasa untuk kita bisa menjadi orang yang bermanfaat untuk seluruh dunia!

Ini yang harus benar-benar kita tanamkan kepada diri kita dan lingkungan sekolah kita. Selain itu, fitrahnya belajar berbahasa bukan dengan tulisan dan bacaan duluan, tapi mendengar, menyaksikan dan menirukan terlebih dahulu.

Kita sebagai guru harus pandai menjual dengan cara yang menarik dan kreatif, bukan memaksa orang untuk membeli. Maksudnya kita buat belajar itu menyenangkan, ngangenin. Bukan menyeramkan dan gurunya dimusuhi tapi mau tidak mau orang harus ikut apa kata guru.

Seiring terbentuknya mindset yang baik, otomatis lingkungan pun akan terbentuk. Ketika sebelumnya siswa malu dan takut salah dalam berbicara dengan bahasa asing, sekarang tidak takut lagi karena bapak-ibu gurunya saja praktek berbicara dengan bahasa asing. Tidak takut salah lagi ketika bertegur sapa dengan kawan karena bapak-ibu guru ketika saling bertegur sapa juga menggunakan bahasa asing. Coba aja kalau disapa dengan bahasa asing malah jawabannya dengan bahasa lokal, ya akan dapat masalah. Hehe.  Akhirnya karena lingkungannya sudah baik, setiap siswa akan termotivasi untuk bisa berbahasa asing. Tidak lagi dengan motivasi supaya nilai tinggi.

Itu tadi pembahasan tentang Penyebab Belajar Bahasa Arab dan Bahasa Asing Lainnya jadi sulit. Jika ada yang ingin dikoreksi atau disampaikanari kita bisa sharing dan diskusi lewat lewat kolom komentar ya. Dan ujung-ujungnya .....

Guru yang berperan penting dalam menjadikan siswa senang dengan pelajaran bahasa asing. hehe.

O iya, postingan ini juga saya ikutkan dalam Tantangan 40 Hari Menulis. Sekarang Hari Ke-2.
Semoga postingan kali ini bisa memberi manfaat untuk Anda yang membacanya. Terima kasih!



Baca selengkapnya »
Tantangan 40 Hari Menulis, Berani?

Tantangan 40 Hari Menulis, Berani?

Saya terinspirasi dari buku Habists milik Koh Felix Siaw yang menerangkan bahwa kebiasaan itu terbentuk dalam jangka waktu 40 hari. Ketika kita berhasil membiasakan suatu aktivitas dalam 40 hari tanpa jeda, maka ia akan menjelma menjadi sebuah kebiasaan. Entah itu kebiasaan baik atau kebiasaan buruk. Di buku itu juga dijelaskan bahwa orang-orang sukses itu sebagian besarnya memiliki habits atau kebiasaan yang rutin tanpa henti. That's why, kadang kita bertanya-tanya ketika melihat orang sukses di sekitar kita dengan pertanyaan "Apa ya amalannya (amalan rutinnya)?". Karena sebenarnya tanpa sadar, kita sudah mengakui, orang sukses pasti punya kebiasaan. Kebiasaan sukses dan membiasakannya dengan sabar, fokus tanpa jeda, tanpa henti. Bahasa Taqwanya adalah Istiqomah.

Nah, sebagai orang yang ingin sukses dalam berkarya, saya ingin sekali membiasakan menulis setiap hari. Oleh karena itu, saya mengajak Anda sekalian yang juga ingin sukses berkarya untuk ikutan Tantangan 40 Hari Menulis ini. Tujuannya supaya kita memiliki kebiasaan sukses yaitu menulis. Harapannya, setelah kita lulus 40 hari menjalankan tantangan ini, kita semua menjadi seorang penulis yang baik. Entah sebagai penulis blog, artikel di media massa mainstream atau penulis buku.

Hujjatul Islam Al Imam Ghozali pernah berkata: 
"Kalu kau bukan seorang anak raja dan juga bukan anak ulama besar, jadilah penulis!"

Sekilas artinya simpel ya. Tapi maknanya sangatlah dalam, bahwa dengan menulis kita dapat berperan besar dalam perubahan. Dan sejarah juga mengakui bahwa perubahan-perubahan yang terjadi di dunia ini berkat peran tangan-tangan pemikir yang menulis. Ilmu modern saat ini pun, berkembang dan semakin maju sebab ilmuwannya menulis. Betapa dengan menulis, perubahan dunia bergerak maju. Dengan menulis, sejarah terekam.

Ketika usia kita tidak cukup panjang untuk mendidik generasi kita sampai seratus tahun ke depan, tulisan kita bisa menyentuh relung pikiran dan sanubari mereka. Dari sanalah pendidikan kita berlangsung.
 Baik, siapa yang siap ikutan?

Saya sampaikan aturannya ya!

Aturan Ikut Tantangan 40 Hari Menulis

  1. Bergabung menjadi anggota grup Facebook Forum Diskusi Guru Blogger - https://www.facebook.com/groups/217063729593561 dan Grup Whatsapp https://chat.whatsapp.com/Jnu2b8IAGidDekFZ1PO6MC .
  2. Kemudian ketikkan alamat blog Anda di kolom komentar dibawah.
  3. Memasang banner gambar Tantangan di bahwah ini pada sidebar blog Anda dan menyisipkan link ke postingan ini.
  4. Share Postingan ini ke teman-teman Anda bisa di WA atau Facebook.
  5. Mulailah menulis!

Aturan Kepenulisan Tantangan 40 Hari Menulis

  1. Tema Bebas, sebaiknya terfokus pada tema keahlian Anda.
  2. Judul Postingan harus menyisipkan Hari Ke-1,  dst. (contoh: Soal Latihan Bahasa Arab Kelas X Bahasa dan Sastra Arab KD 3.2 dan 4.2 (Hari Ke-1))
  3. Isi postingan minimal 500 kata.
  4. Menyisipkan kalimat Tantangan 40 Hari Menulis yang didalamnya tersemat link ke postingan ini di dalam postingan Anda.
Nah dengan menjalankan aturan diatas, Anda sudah resmi menjadi peserta Tantangan 40 Hari Menulis!



Ada Reward and Punishment?

Saat ini saya belum memikirkan itu sih. Namun, kalau di dalam buku Habits, kita perlu menerapkan itu untuk memacu diri kita supaya tetap istiqomah. Jadi kita buat semacam self rewarding dan self punishing gitu.

Aturannya  begini,
  1. Apresiasi setiap pencapaian Anda. Misalnya, Anda sudah mengikuti tantangan ini dan memasuki hari ke-10. Berikan apresisasi pada diri Anda dengan misalnya membeli makanan enak karena sudah berhasil. Atau Anda merayakannya dengan membuat pesta kecil syukuran di rumah.
  2. Hukum diri Anda ketika tidak konsisten dengan tantangan ini, misalnya dengan membatasi diri melakukan kesukaan, atau dengan push up 10 kali dan memaksa diri untuk menulis 1 postingan lagi sebagai kompensasi.
Kedua cara ini efektif untuk melatih diri lebih disiplin lagi. Bismillah!


Berikut ini gambar Banner yang harus Anda pasang di Sidebar Blog Anda:


Cara pasangnya:

1. Salin kode HTML berikut ini 
<a href="http://www.fahri.web.id/2020/04/Tantangan-40-Hari-Menulis-Anda-Berani.html"><img src="smiley.gif" alt="40 Hari Tantangan Menulis" height="320" width="320"></a>
2. Langka berikutnya: Kalau Anda pakai platform blogger, bisa masuk dashboard > tata letak > Tambah Widget > HTML > Paste di sini.

NB: bagian kode HTML height="320" width="320" bisa diatur sesuai ukuran proporsional blog Anda ya.

Selamat berkarya!
Selamat Menulis!
Baca selengkapnya »
Materi Bahasa Arab Perkenalan (Dialog) - Model Pembelajaran Inquiry Learning

Materi Bahasa Arab Perkenalan (Dialog) - Model Pembelajaran Inquiry Learning

Materi ini cocok untuk Anda terapkan dalam proses belajar Bahasa Arab kelas X - Bahasa dan Sastra Arab. Adapun KD yang dicapai adalah KD 3.1 dan KD 4.1.

Model pembelajaran yang dipakai adalah Inquiry Learning yakni siswa diajak untuk menyimak video contoh percakapan perkenalan berbahasa Arab, kemudian siswa diminta untuk mengategorikan setiap percakapan pada 5 kelompok: 1) Sapaan; 2) Perkenalan; 3) Permintaan Maaf; 4) Berterima kasih; 5) Perpisahan. Setelah itu siswa menyimpulkan bahwa cara menyapa, berkenalan, meminta maaf, berterima kasih dan berpisah sebagaimana yang ada dalam video.

Siswa selanjutnya diberi tugas untuk menyusun sendiri dialog percakapan perkenalan. Bisa berkelompok sepasang-sepasang. Lalu mempraktikkannya di depan teman sekelas.

Video Dialog Perkenalan #1




Video Dialog Perkenalan #2




Bagaimana proses penilaiannya?

Penlaian dapat dibagi menjadi latihan lisan dan tertulis.

Penilaian Tertulis dapat diberikan soal pilihan ganda, benar-salah atau ya-tidak. Tergantung KD dan indikator yang ingin dicapai baik C1-C6 (Taksonomi Bloom)

Sedangkan penilaian lisan dapat menggunakan rubrik dengan skala penilaian 1-4.
Aspek yang dinilai: a) kelancaran; b) mufrodat; c) kohesi antar-kalimat; d) Kesesuaian materi dengan konteks percakapan. Agar tidak menebak-nebak dalam penilaian, dapat dibuat kriterian berdasarkan skala 1-4.

Kelebihan proses belajar dengan model ini adalah siswa jadi lebih aktif dan lebih berani berinovasi untuk mengembangkan dialog perkenalan versi mereka sendiri dan siswa jadi lebih banyak bertanya jawab dalam menambah kosakata-kosakata baru.

Kendala yang mungkin dihadapi dalam kelas adalah siswa belum terbiasa mendengar percakapan bahasa Arab sehingga perlu waktu untuk menulis lagi apa yang mereka dengar. Terlebih bagi siswa yang belum memiliki dasar imla'.

Peran guru sebagai sumber materi dan memvalidasi data mereka sangat diperlukan dalam model belajar ini.

Dalam satu pertemuan 2x45 menit KD 3.1  dan 4.1 bisa diselesaikan langsung. Namun apabila Anda ingin menugaskan siswa untuk membuat video percakapan sebagaimana dalam video contoh, mungkin bisa memerlukan waktu sedikit lebih banyak.

Mungkin itu yang dapat saya bagikan kali ini, saran dan masukan dari Anda sangat bermanfat bagi saya.

Jika dirasa postingan kali ini bermanfaat, yuk share kepada guru bahasa Arab lainnya dan berkomentar di bawah jika ada yang ingin didiskusikan ya!

Terima kasih!

Baca selengkapnya »
Pembelajaran dengan Pendekatan Saintifik (Scientific Approach)

Pembelajaran dengan Pendekatan Saintifik (Scientific Approach)

Ketika kita menitipkan anak-anak di sekolah, pernahkah kita bertanya-tanya bagaimana proses belajar yang dilalui oleh mereka? Pada kesempatan kali ini saya akan menjelaskan bagaimana anak-anak kita melalui proses belajar di sekolahnya.

Kurikulum 2013 pemerintah secara prinsip memproyeksikan lulusannya menjadi generasi yang mencakup empat aspek kecakapan spiritual, sosial, pengetahuan dan keterampilan. Pembelajaran anak-anak kita di sekolah idealnya akan menjadikan mereka anak-anak yang agamis, berjiwa sosial, berpengetahuan yang luas dan terampil dalam disiplin ilmu yang diminatinya. Nah, dalam proses tersebut peran guru menjadi sangat penting sebab guru tidak hanya mendidik siswa dalam disiplin ilmu saja tapi juga secara karakter dan keteladanan.

Oke, karena judul artikel kali ini adalah Pembelajaran dengan Pendekatan Saintifik (Scientific Approach) saya akan berfokus pada penjelasan sesuai judul saja ya. Ini lebih kepada aspek Pengetahuan dan Keterampilan siswa.

Pengertian

Pendekatan Saintifik (Scientific Approach) adalah sebuah model pembelajaran yang memuat serangkaian aktivitas pengumpulan data melalui observasi, menaya, eksperimen, mengolah informasi atau data, kemudian mengomunikasikan. (Kemendikbud, 2014)

Pendekatan ini sudah diterapkan di Amerika sejak akhir abad ke-19 dengan format pembelajaran yang mengedepankan kegiatan laboraturium formalistik untuk pembelajaran sains yang kemudian diarahkan pada penyimpulan fakta-fakta ilmiah. Pendekatan saintifik ini sebenarnya juga sudah diterapkan di Indonesia dengan sebutan Learning by Doing atau dikenal juga dengan cara belajar siswa aktif pada kurikulum 1975.

Pendekatan saintifik ini bertujuan agar meningkatkan kemampuan berpikir peserta didik, membentuk kemampuan penyelesaian masalah secara sistematik, menumbuhkan budaya pembelajaran peserta didik yang merasa bahwa belajar merupakan suatu kebutuhan, melatih peserta didik dalam mengemukakan ide-ide, meningkatkan hasil belajar peserta didik, dan mengembangkan karakter peserta didik.


Langkah-Langkah Pendekatan Saintifik

Langkah-langkah pendekatan saintifik dalam proses pembelajaran meliputi mengamati (observing), menanya (questioning), mencoba (experimenting), mengolah data atau informasi dilanjutkan dengan menganalisis, menalar (associating), dan menyimpulkan, menyajikan data atau informasi (mengomunikasikan), dan menciptakan serta membentuk jaringan (networking).

Lebih rincinya sebagai berikut:

Mengamati

Metode mengamati ini mengutamakan kebermaknaan dalam proses pembelajaran (meaningfull learning). Metode ini sangat bermanfaat bagi pemenuhan rasa ingin tahu peserta didik, sehingga proses pembelajaran memiliki kebermaknaan yang tinggi. Dengan metode observasi ini peserta didik menemukan fakta bahwa ada hubungan antara objek yang dianalisis dengan materi pembelajaran yang sampaikan oleh guru.

Menanya

Kegiatan belajar menanya dilakukan dengan cara peserta didik mengajukan pertanyaan tentang informasi yang tidak dipahami dari apa yang diamati atau pertanyaan untuk mendapatkan informasi tambahan tentang apa yang diamati.

Mengasosiasikan/Mengolah Informasi

Dalam kegiatan mengasosiasi/mengolah informasi terdapat kegiatan menalar dalam kerangka proses pembelajaran dengan pendekatan ilmiah yang dianut dalam kurikulum 2013 untuk menggambarkan bahwa guru dan peserta didik merupakan pelaku aktif. Penalaran adalah proses berfikir yang logis dan sistematis atas fakta-fakta empiris yang dapat diobservasi untuk memperoleh simpulan berupa pengetahuan.

Mengomunisasikan

Pada pendekatan saintifik guru diharapkan memberi kesempatan kepada siswa untuk mengkomunikasikan apa yang telah mereka pelajari. Kegiatan ini dapat dilakukan melalui menuliskan atau menceritakan apa yang ditemukan dalam kegiatan mencari informasi, mengasosiasikan, dan menemukan pola.

Nah, itu dia pembelajaran yang diterapkan di sekolah. Anak-anak kita diproyeksikan menjadi generasi yang cerdas dan mandiri dalam menyelesaikan problematika kehidupannya dengan pembiasaan ilmiah tersebut.

Namun, yang perlu kita perhatikan juga bahwa pendidikan di sekolah tidak sepenunyah berperan dalam pembentukan karakter tersebut. Peran kita sebagai orang tua tidak bisa digantikan oleh sekolah. Pembentukan mental dan karakter baik spiritual dan emosional sebagian besar terbentuk dalam lingkungan keluarganya.

Ketika ada permasalahan di sekolah yang harus anak kita selesaikan, maka sikap yang dibawanya adalah sikap didikan kita di rumah. Apabila kita mendidik anak-anak kita dengan bekal mental dan spiritual yang baik, dia akan tumbuh ke arah yang baik dimana pun dia belajar. Akan tetapi kalau pendidikan di rumah tidak berjalan, di sekolah semahal apapun dan sehebat apapun gurunya, hasilnya akan sulit diharapkan menjadi maksimal.

Akhirnya, saya menyimpulkan. Kurikulum Pendidikan yang diusulkan pemerintah untuk generasi penerus kita adalah sistem yang baik. Namun, kurikulum yang terbaik tak lain dan tak bukan hanya ada dalam lingkungan keluarga kita. Jadi, sudahkah kita mendidik anak-anak kita dengan kurikulum yang terbaik sesuai dengan harapan kita?


Baca selengkapnya »
Formula Belajar Bahasa Arab yang Mudah, Memahamkan dan Menyenangkan

Formula Belajar Bahasa Arab yang Mudah, Memahamkan dan Menyenangkan

Menurut Anda, apa hubungan antara gambar ini dengan judul postingan ini? Boleh jawab di kolom komentar ya!

Apa yang ada di benak siswa ketika mendengar kata Bahasa Arab?

Ooh! Itu pelajaran yang sangat sulit! Memusingkan!

Harus mempelajari nahwu, shorof, tulisannya ruwet. Banyak sekali kaidahnya.
Pokoknya kalau sudah berurusan dengan bahasa Arab itu isinya sumpek!

Hm...
Apakah bahasa Arab sesulit itu?

Ya, kalau mendengar kata mereka yang kualahan belajar bahasa Arab sih, saya yakin memang begitulah adanya. Bahkan awal-awal saya mengajar bahasa Arab dulu, muncul celetukan siswa: 

"Sulitnya matematika nggak sepusing ketika harus mempelajari bahasa Arab."

Saat itu saya tidak bisa memungkirinya. Saya masih mencari formula yang tepat untuk pembelajaran bahasa Arab menyenangkan. Selain menyenangkan, tentunya siswa akhirnya mampu berbahasa Arab.

Alhamdulillah, sudah 3 tahun saya mengajar bahasa Arab. Setelah banyak mendengarkan keluhan dan kesulitan siswa dalam belajar bahasa Arab serta mengamati kondisi siswa saya menemukan Formula Belajar Bahasa Arab yang Mudah, Memahamkan dan Menyenangkan. InsyaAllah kedepannya saya akan jelaskan formulanya. Di artikel ini saya akan ulas sedikit konsep pembelajarannya.

Namun, sebelum lanjut ke pembahasan formulanya, berikut ini keluhan yang sering muncul di kalangan siswa ketika belajar Bahasa Arab:

1. Tulisannya cukup rumit

Benar sekali! Tidak seperti bahasa asing Inggris. Walaupun memang sebenarnya bahasa Inggris juga rumit, namun dapat termaafkan ketika siswa masih bisa mengusahakan membaca tulisan latinnya. Secara siswa memang lebih terbiasa dengan tulisan latin. Sementara bahasa Arab, kebanyakan mindset siswa menganggapnya bahasa ritual Islam yang hanya dipakai dalam sholat, baca Al-Qur'an dan baca do'a. Bahkan mereka membacanya seperti sedang mengaji. Kasihannya lagi siswa yang tidak pernah balajar bahasa Arab baik tulisannya dan bacaannya di TPA.

2. Kaidahnya Banyak dan Susah diingat

Setiap bahasa pasti memiliki kaidah. Baik sintaksis atau morfologis, bahasa Arab terkesan cukup rumit. Secara nahwu (sintaksis) misalnya, ada kaidah-kaidah yang harus diperhatikan saat penggunaannya. Posisi sebagai objek harusnya harokat akhirnya bagaimana, kalau jadi subjek disebut apa dan harokat akhirnya apa, harus pakai alif-lam atau tanwin, harus ini-harus itu. Itu baru sintaksisnya, belum lagi shorof (morfologi) bhuannyak banget! Ampun dah!

3. Takut Salah

Kenapa sebagian siswa merasa keberatan dengan bahasa Arab? Karena mereka takut salah. Nanti salah muannas muzakkarnya, nanti salah ucapannya, nanti salah kosakatanya dan banyak lagi ketakutan-ketakutan yang akhirnya membuat siswa urung untuk mencoba eksplorasi bahasa Arab. Apalagi kalau gurunya galak. Hiii. Nggak berani deh. hehe.

Ya, tiga poin itu yang menjadi momok dalam pembelajaran bahasa Arab sehingga siswa kurang tertarik dengan bahsa Arab. Itulah tembok yang seharusnya kita dobrak. Tiga tembok tersebut terlalu sulit untuk ditembus sehingga banyak yang menyerah untuk melaluinya.

Formula Belajar Bahasa Arab yang saya gunakan pada intinya dilandasi oleh keluhan siswa tersebut diatas. Jadi, secara prinsip, belajar Bahasa Arab yang menyenangkan itu adalah ketika 3 poin diatas berhasil ditepis dan dihapus dari mindset siswa. Sehingga langkah awal yang harus dilakukan adalah membereskan gurunya. hehe.
Fahrizal Mukhdar

Nah lho... Kenapa gurunya?

Ya jelas gurunya lah, karena yang membuat siswa kesulitan belajar bahasa Arab itu sebenarnya bukan 3 poin di atas, tapi idealisme gurunya. Siswa tidak akan mengeluhkan itu kalau gurunya tidak kaku ketika melihat tulisan siswa yang masih acakadut. Siswa juga tidak takut bereksplorasi ketika tidak dihantui oleh kesalahan kaidah bahasa. Siswa juga tidak akan takut salah ketika gurunya dengan penuh semangat mengapresiasi usaha siswa dan menyampaikan rasa bangganya ketika siswa berhasil mengalami kemajuan dari sebelumnya. Setuju?

Oke-oke. Saya merasa bersalah sebagai guru bahasa Arab ketika masih memiliki idealisme itu, hehe. Nah, bagaimana mengubah mindset tersebut?

Ini dia caranya:
  1. Tulisannya cukup rumit? Yasudah nanti aja belajar tulisannya.
  2. Kaidahnya banyak dan susah diingat? Yasudah kita langsung praktek aja! Nggak perlu mengingat kaidah yang banyak itu. Nanti saja.
  3. Takut Salah? Nggak masalah kok. Tenang aja, bahkan gurumu pun masih bisa membuat kesalahan yang sama dengan yang kamu lakukan. Jadi, teruskan saja!
Sampai sini, ternyata cukup panjang juga ya pembahasan saya. Belum sampai ke Formula Belajar Bahasa Arab yang Mudah, Memahamkan dan Menyenangkan juga hehe.


Okelah, sekarang langsung ke formulanya:

Ini dia:

Formula Belajar Bahasa Arab yang Mudah, Memahamkan dan Menyenangkan

1. Kembalilah kepada fitrah berbahasa!

Apa maksudnya kembali kepada fitrah berbahasa?

Fitrah berbahasa adalah mendengar dan menyaksikan lebih banyak ketimbang membaca dan menirukan. Jadi yang perlu dikedepankan adalah proses mendengar dan menyaksikannya. Bukan membaca dan menirukan baik lisan maupun tulisan.

Karena tahap ini sebenarnya adalah tahap mencerna kosakata dan menghubungkannya dengan konteks penggunaannya, ini memerlukan waktu dan perlu distumulasi dengan repetisi yang intens. Seseorang akan mencoba menirukan apa yang dia dengar dan saksikan ketika sudah merasa cukup paham dengan kosakata dan korelasinya dengan konteks penggunaannya.

Hal ini yang sering diabaikan oleh guru. Siswa dijejali dengan kosakata yang begitu banyak dan harus dihafalkan baik secara lisan maupun tulisan dalam waktu yang relatifi singkat. Seminggu harus hafal 20 kosakata misalnya. Bagi seorang pemula, itu sudah melanggar fitrah. Betapa tidak, seperti kita yang belajar bahasa baru di daerah yang baru kita tinggali. Apakah kita dipaksa menghafal kosakata bahasa baru itu seperti di sekolah? Tidak, kan? Kita belajar secara alami dalam kegiatan kita sehari-hari. Mendengarkan, menyaksikan konteksnya, lalu kita mempraktikkannya bertahap.

Oke. Pertanyaannya, berapa kali tatap muka pelajaran Bahasa Arab setiap minggunya? Apa yang dilakukan dalam kelas? Membaca teks? Berapa banyak perbandingannya antara menulis dan mendengarkan? Ayo jujur... Banyakan membaca dan menulisnya bukan?

Padahal secara alamiah dan ilmiah membuktikan bahwa belajar bahasa yang efektif adalah dengan banyak mendengar dan menyaksikan konteksnya. Kalau Anda orang Kalimantan yang sekarang tinggal di Malang. Coba ingat-ingat, berapa lama Anda tinggal di sana, dan memerlukan berapa bulan Anda bisa menguasai dan menggunakan bahasa Jawa Malangan dalam praktik komunikasi pergaulan Anda? Tiga bulan, enam bulan, setahun? Coba bayangkan, dalam waktu yang relatif singkat Anda bisa menguasai bahasa daerah tersebut dengan cara yang tidak diterapkan oleh sekolah. Cara apa? Cara fitrah berbahasa.

2. Jadilah role model berbahasa!

Lagi-lagi salah gurunya. hiks! Hehe.
Sering kali yang menjadi penyebab bahasa Arab tidak menarik untuk dipelajari adalah karena gurunya juga tidak percaya diri dalam menggunakan bahasa Arab ketika bertemu dengan siswa. Bahkan dalam menjelaskan meteri bahasa Arab saja guru menyampaikannya dengan bahasa Indonesia. Hehe. Benar, tidak? Sebagai rule model, sebenarnya guru bisa mencampurkan penggunaan bahasa Arab dan Indonesia dalam penjelasan materinya.

Mestinya, guru bahasa Arab bisa menjadi contoh keren berbahasa Arab bagi siswa.  Dengan aura penuh semangat dan sering mengajak siswa berbicara berbahasa Arab baik di dalam jam pembelajaran atau diluar pembelajaran, guru bisa menjadi motivator yang sangat berpengaruh bagi siswa.

3. Jadilah pendukung siswa

Tidak semestinya guru memotong pembicaraan siswa ketika dia mempraktikkan bahasa Arab karena dia melakukan kesalahan dari segi kaidah ataupun kosakata. Sebab ketika meraka berusaha mempraktikkan secara lisan ataupun tulisan, saat itu mereka sedang mengerahkan segala upaya dan tenaga untuk menyingkronkan maksud dan kosakata yang ingin diungkapkannya. Bayangkan bagaimana perasaannya ketika usahanya itu dipatahkan dengan koreksi yang tidak begitu penting? Parahnya lagi ketika kita menjadikannya bahan tertawaan. Saya yakin, proses belajar bahasa Arab jadi hukuman bagi siswa.

Kita sebagai guru bertanggun jawab penuh untuk mendukung siswa. Mengapresisasi setiap usahanya adalah hal mutlak yang lazim dilakukan oleh guru.

"Wah, Bapak, kagum dengan kemajuanmu. Besok-besok Bapak jadi semakin penasaran, kemajuan apa lagi yang bisa kamu tunjukkan di hadapan kami. Ini luar biasa! Keren! Semangat terus ya! Kalau ada kesulitan, jangan sungkan untuk mendatangi Bapak dan berdiskusi. Okey?!"

Saat siswa melakukan kesalahan dalam praktiknya, guru bisa menyampaikan koreksinya dengan bahasa yang membangun setelah praktiknya selesai.

"Nak, tadi kamu bermaksud mengatakan هذا بيت dan keliru menggunakan هذه , ya? Hmm, nggak masalah, sih. Siapa saja pernah seperti itu, bahkan orang Arab aslinya pun pernah melakukan kesalahan seperti itu. Kamu bisa jadi lebih baik setelah sering menyimak dan berlatih kok. Tingkatkan lagi ya! Bapak, percaya kamu bisa!"

Nah itu dia Formula Belajar Bahasa Arab yang Mudah, Memahamkan dan Menyenangkan versi saya. Jika, Anda seorang guru Bahasa Arab dan merasa ada hal yang perlu dikoreksi atau didiskusikan dari apa yang saya tulis ini, jangan sungkan untuk meninggalkan komentar di bawah ya!

Semoga bermanfaat!
11/04/2020 - Fahrizal


Baca selengkapnya »
4 Model Pembelajaran dalam Kurikulum 2013

4 Model Pembelajaran dalam Kurikulum 2013

Model pembelajaran adalah pola atau struktur pembelajaran peserta didik yang didesain, diterapkan, dan dievaluasi secara sistematis oleh guru dalam rangka mencapai tujuan pelajaran. Bahasa simpelnya model pembelajaran adalah gambaran proses belajar yang diterapkan oleh guru didalam kelas.

Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 65 Tahun 2013 Tentang Standar Proses, model pembelajaran yang diutamakan dalam implementasi Kurikulum 2013 adalam model pembelajaran Inkuiri (Inquiry Based Learning), model pembelajaran Discovery Learning, model pembelajaran berbasis Proyek (Project Based Learning), dan model pembelajaran berbasis permasalahan (Problem Based Learning).

Nah, ringkasnya gimana sih 4 model pembelajaran kurikulum 2013 tersebut?
Yuk kita bahas satu per satu!


A. Inquiry Learning

Model inkuiri ini tahapannya antara lain:
  1. Observasi/Mengamati berbagai fenomena alam atau lingkungan. Pada tahap ini siswa diajak mengalami dan mengamati langsung fenomena terkait matapelajaran yang dipelajarinya;
  2. Setelah mengamati, siswa didorong untuk memunculkan pertanyaan terkait fenomena yang telah diamati. Pada tahapan ini siswa sedang berlatih untuk dapat secara mandiri mengeksplorasi fenomena melalui kegiatan bertanya kepada teman, guru atau mencari jawaban dari pertanyaannya tersebut dari berbagai sumber.
  3. Mengajukan dugaan atau hipotesis kemungkinan jawaban. Pada tahapan ini siswa dapat mengasosiasi atau melakukan penalaran terhadap kemungkinan dari pertanyaan yang diajukan.
  4. Mengumpulkan data yang terkait dengan hipotesis atau pertanyaan yang diajukan, sehingga dalam kegiatan tersebut siswa dapat memprediksi jawaban yang paling tepat untuk merumuskan suatu kesimpulan.
  5. Merumuskan kesimpulan berdasarkan data yang diolah atau dianalisis, sehingga pada tahapan ini siswa dapat menyajikan hasil temuannya.
Model pembelajaran ini cocok untuk mata pelajaran matematika atau matapelajaran lainnya ketika karakteristik kompetensi dasarnya dinilai cocok. Contohnya kalau dalam bahasa Arab, model ini bisa digunakan untuk penjelasan tarkib untuk menemukan pola struktur kebahasaan.

B. Discovery Learning

Model pembelajaran ini tahapannya antara lain:
  1. Memberi stimulasi (Stimulating). Pada kegiatan ini guru memberika stimulasi yang dapat berupa literasi bacaan, gambar, video atau situasi yang sesuai dengan materi pembelajaran/topik/tema yang akan dibahas sehingga siswa mendapatkan pengalaman belajar mengamati oengetahuan konseptual.
  2. Mengidentifikasi Masalah (Problem Statement). Pada tahapan ini siswa didorong untuk menemukan permasalahan apa saja yang dihadapi sehingga siswa mendapatkan pengalaman belajar menaya, mencari informasi dan merumuskan masalah.
  3. Mengumpulkan Data (Data Collecting). Pada tahap ini siswa didorong untuk mencari dan mengumpulkan data/informasi yang dapat digunakan untuk menemukan solusi pemecahan masalah yang dihadapi. Aktivitas ini melatih ketelitian, akurasi, dan kejujuran serta membiasakan siswa untuk mencari atau merumuskan berbagai alternatif pemecahan masalah jika satu alternatif mengalami kegagalan.
  4. Pengolahan data (Data Processing). Siswa melakukan pengolahan data. Kegiatan ini melatih sisea untuk mencoba dan mengeksplorasi kemampuan pengetahuan konseptualnya untuk diaplikasikan dalam kehidupan nyata.
  5. Memverifikasi (Verification). Pada tahapan ini siswa diarahkan untuk mengecek kebenaran dan keabsahan hasil pengolahan data melalui berbagai kegiatan antara lain bertanya kepada teman, berdiskusi, mencari sumber yang relevan baik dari buku atau media, serta mengasosiasikannya sehingga menjadi sebuah kesimpulan.
  6. Generalisasi (Generalisation). Pada kegiatan ini siswa mulai digiring untuk mengambil pernyataan umum dari hasil simpulannya pada suatu kejadian atau permasalahan yang serupa. Tahap ini melatih siswa dalam aspek metakognitifnya.

C. Project Based Learning

Model pembelajaran ini memfokuskan pada permasalahan kompleks yang diperlukan siswa dalam memahami materi melalui investigasi dan membimbing siswa dalam sebuah proyek kolaboratif yang mengintegrasikan berbagai subjek dalam kurikulum. Model ini juga memberikan kesempatan kepada siswa untuk menggali konten (materi) dengan menggunakan berbagai cara yang bermakna bagi mereka.

Langkah pembelajaran berbasis proyek ini adalah sebagai berikut:
  1. Menyiapkan pertanyaan atau penugasan proyek. Tahap ini sebagai langkah awal agar siswa mengamati lebih dalam terhadap pertanyaan yang muncul dari fenomena yang ada.
  2. Mendesain perencanaan proyek. Sebagai langkah nyata menjawab pertanyaan yang ada disusunlah suatu perencanaan proyek.
  3. Menyusun jadwal proyek yang akan dijalankan.
  4. Memonitor kegiatan dan perkembangan proyek.
  5. Menguji hasil.
  6. Mengevaluasi kegiatan/pengalaman.

D. Problem Based Learning

Model pembelajaran ini bertujuan merangsang siswa untuk belajar menyelesaikan masalah yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari yang dikaitkan dengan materi yang dipelajarinya.

Adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
  1. Mengorientasi pada masalah. Pada tahap ini siswa diajak untuk mengamati masalah yang menjadi objek pembelajaran.
  2. Mengorganisasikan kegiatan pembelajaran.
  3. Membimbing penyelidikan mandiri dan kelompok. Dalam tahap ini siswa melakukan percobaan (mencoba) untuk memperoleh data dalam rangka menjawab atau menyelesaikan masalah.
  4. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya.
  5. Analisis dan evaluasi proses pemecahan masalah.
Model pembelajaran ini bertujuan untuk membentuk karakter siswa yang berjiwa siantis dan mandiri. Dengan membiasakan siswa belajar dengan model seperti ini, ketika kelak mereka terjun ke masyarakat, pengalaman belajar seperti ini akan membuat mereka lebih cakap dan cerdas dalam menghadapi permasalahan di lingkungannya.

Well! That's all about 4 Model Pembelajaran dalam Kurikulum 2013. Jika ada saran dan kritik yang ingin disampaikan, yuk langsung saja disampaikan di kolom komentar! Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya.


10/04/2020 - Fahrizal

Siswa SMA IT Arafah - Problem Based Learning Bahasa Indonesia

Baca selengkapnya »
3 Tips Mengajar Menyenangkan dalam Kondisi Darurat Corona

3 Tips Mengajar Menyenangkan dalam Kondisi Darurat Corona



Dikarenakan Kondisi Darurat Wabah Corona, mau tidak mau proses belajar mengajar harus dilaksanakan dari rumah. Karakteristik virus yang mudah sekali menular dari manusia ke manusia menyebabkan kegiatan berkumpul dan berinteraksi fisik sebagaimana biasanya di sekolah tidak lagi aman. Sehingga pada tanggal 24 Maret 2020 Kemendikbud merilis Surat Edaran yang mengatur proses belajar mengajar selama masa Darurat Wabah.

Proses belajar mengajar pun berubah drastis. Dari yang asalnya tatap muka langsung, selama masa darurat ini menjadi seluruhnya belajar dari rumah dengan memanfaatkan internet. Sebelumnya belajar dengan guru, sekarang belajar dengan emak. Parahnya, bagi sebagian anak belajar dengan orangtua sangatlah tidak asyik! Anak bete, emaknya gemes! hehe.

Tak sedikit keluhan kesulitan dalam belajar muncul dari siswa dan orangtua. Bahkan guru pun juga banyak yang kesulitan. Kendala paket data terbatas, sinyal timbul tenggelam, juga kejenuhan.

Sungguh pun demikian, bapak-ibu gurulah yang pada akhirnya mau tidak mau harus berinovasi. Guru berpikir keras bagaimana caranya supaya dalam mengikuti pembelajaran dari rumah siswa tetap bersemangat. Memanfaatkan teknologi Android dan Laptop menjadi basis pembelajarannya. Ada guru yang menggunakan classroom, edmodo, zoom dan lainnya.

Tapi, apakah dengan pemanfaatan teknologi saja sudah cukup?
Jawabannya: BELUM!

Mengapa demikian? Karena jika tidak diinovasi, pembelajaran jadi cenderung  menjenuhkan. Belajar dari rumah bukannya santai, malah siswa mendapat bejibun tugas. hehe. Ya, meskipun memang belajar dari rumah tidak untuk bersantai, tapi jumlah tugas antara belajar di sekolah dan belajar dari rumah malah lebih banyak tugas di rumah dibandingkan dengan ketika  belajar di sekolah. Sehingga pada akhirnya siswa penat dan lelah mengerjakan tugas-tugas dan dampaknya mereka malas mengerjakan tugas dengan sungguh-sungguh. Akhirnya siswa mengerjakan tugas-tugas hanya untuk memenuhi kewajiban saja. Asal-asalan.

Apakah Anda sebagai guru juga merasakannya?

Gimana? Masalah bukan?

Lalu, bagaimana caranya agar belajar dari rumah yang notabene membosankan karena sudah hampir sebulan yang diublek itu-itu aja?

Oke! ini dia:

Tips Mengajar Menyenangkan dalam Kondisi Darurat Corona

Sebelum masuk ke poin tipsnya, kita perlu menyadari dulu bahwa tujuan belajar adalah untuk menambah ilmu, wawasan, kreatif dan pengalaman. Supaya semua itu benar-benar maksimal didapatkan oleh peserta didik, maka model belajarnya harus menarik.

Usaha itu memang tidak mudah, tapi bukan berarti kita tidak mau mencoba dan terus mencoba, kan?

Tips ini saya refleksikan dari pengalaman saya saat mengajar. Yuk disimak...

1. Ajak siswa berdiskusi untuk menentukan cara belajarnya!

Dalam pembelajaran bahasa Arab, saya sering mengambil sudut pandang siswa ketika hendak menentukan kegiatan belajar yang proporsional dan menyenangkan. Saya menyampaikan terlebih dahulu apa yang akan mereka harus capai sebelum memulai pelajaran. Siswa sering memberi masukan metode belajar, dari sana kita bisa mengajak siswa bekerjasama dan pembelajaran jadi lebih aktif serta menyenangkan.

Di kelas, saya lebih menekankan peserta didik mampu dengan percaya diri berkomunikasi menggunakan bahasa Arab. Untuk pembahasan struktur bahasa atau tarkibat-nya saya lebih suka mengajak siswa melakukan pengamatan (Inquiry Learning), dan siswa menemukan polanya sendiri.

2. Memberi tantangan dan menggambarkan apa yang peserta didik akan dapatkan setelah pembelajaran selesai

Model pembelajaran seperti ini bisa diterapkan dengan memberikan peserta didik tugas pengamatan, eksperimen atau proyek. Siswa dibantu dengan membuat Lembar Kerja yang harus mereka laksanakan. Kita sebagai guru berperan sebagai fasilitator pembimbing. Kita membantu mereka menyelesaikan kesulitannya dalam berproses. Kalau di kelas saya, peserta didik saya minta mempresentasikan hasilnya dalam bentuk video monolog.

3. Ajak siswa mengaitkan ilmu yang sedang dipelajari dengan peristiwa-peristiwa aktual atau bidang ilmu lainnya!

Belajar yang nggak kayak belajar. Pada kondisi penuh kegelisahaan seperti saat ini, peserta didik perlu direfresh. Terlebih kebijakan pendidikan pun tidak menekankan harus memenuhi KD selama masa darurat. Maka pembelajaran bisa disetting seperti apapun yang kita mau.

Kelas Bahasa Arab saya saat ini sedang mempelajari sifatul insan. Saya kasihlah mereka video wawancara berbahasa Arab salah seorang Habib yang menyampaikan deskripsi fisik Rasulallah yang indah. Peserta didik merasa kesulitan sih pada awalnya, tapi setelah saya ajak untuk refleksi. Begini hasilnya:

Apa hikmah yang mereka dapatkan setelah memaksakan diri menyimak video?

Jawabannya:
- Dapat mengenal Rasulullah lebih banyak dan tambah cinta.
- Ada juga yang bilang menambah kosakata dan jadi lebih percaya diri dengan Bahasa Arab.
- Jadi sadar bahasa Arab itu menyenangkan dan sadar harus lebih serius lagi belajarnya.
- Saya jadi faham, bahwa mendengar banyak membuat kita mengerti banyak. hehe.

Nah itu tadi tiga tipsnya. Jika ada kekurangan atau ada kritik, saya sangat bersyukur. Boleh sampaikan masukannya di kolom komentar di bawah yaa...


Terima kasih.
09/04/2020 - Fahrizal


NB: Saya mengajar anak SMA. Jadi, tips saya ini belum tentu sesuai dengan kondisi di lingkungan tempat Anda mengajar. Namun, setidaknya prinsip di atas bisa menjadi landasan Anda untuk berinovasi dalam pembelajaran. Semoga sukses!

Persembahan dari Siswa SMA Islam Terpadu Arafah



Baca selengkapnya »

Like Facebook Page saya!